BI Diprediksi Pertahankan Suku Bunga Demi Menjaga Stabilitas Ekonomi Nasional

Senin, 19 Januari 2026 | 11:23:38 WIB
BI Diprediksi Pertahankan Suku Bunga Demi Menjaga Stabilitas Ekonomi Nasional

JAKARTA - Realisasi investasi Indonesia pada 2025 mencatat kenaikan signifikan sebesar 12,7 persen menjadi Rp1.931,2 triliun. 

Lonjakan ini melampaui target tahunan sebesar 101,3 persen. Peningkatan didorong oleh investasi domestik yang naik 26,6 persen dan menyumbang lebih dari separuh total realisasi.

Dana yang disalurkan BPI Danantara mencapai Rp81,5 triliun, sekitar 80 persen di antaranya dialokasikan ke sektor prioritas dan padat karya. Investasi ini turut menciptakan lapangan kerja baru antara 9–11 ribu tenaga kerja per Rp1 triliun. Keberhasilan ini menjadi pilar utama ketahanan pertumbuhan ekonomi jangka pendek.

Meskipun begitu, menjaga momentum pertumbuhan hingga 2026 sangat bergantung pada pemulihan investasi asing langsung. Mitra utama seperti Amerika Serikat dan China diharapkan dapat meningkatkan produktivitas, ekspor, dan pembiayaan valas jangka panjang. Setiap 1 persen pertumbuhan PDB diperkirakan membutuhkan sekitar Rp800 triliun investasi.

Arus Modal dan Pergerakan Rupiah

Pada pekan kedua Januari 2026, tercatat arus keluar portofolio bersih sebesar Rp7,7 triliun. Penarikan ini sebagian besar berasal dari SBN senilai Rp8,15 triliun dan SRBI sebesar Rp2,64 triliun. Sementara itu, arus masuk saham mencapai Rp3,1 triliun, sedikit menyeimbangkan kondisi pasar.

Rupiah melemah sekitar 1,2 persen ke level Rp16.885 per dolar AS, menjadi salah satu yang terlemah di Asia. Penguatan indeks DXY dan lonjakan harga emas menunjukkan meningkatnya permintaan aset safe haven. Pelemahan ini menjadi tantangan bagi stabilitas moneter dan strategi perdagangan internasional.

Imbal hasil obligasi ikut mengalami kenaikan. SUN 10 tahun naik 18 basis poin menjadi 6,25 persen, memperlebar spread INDOGB–UST hingga 210 basis poin. Meski demikian, persepsi risiko tetap terkendali, tercermin dari CDS 5 tahun yang masih rendah di angka 71.

Sikap BI di Tengah Volatilitas Pasar

Pergerakan aset yang fluktuatif lebih banyak dipengaruhi oleh ketidakpastian global dan ekspektasi kebijakan. Pasar telah memprediksi kemungkinan BI dan The Fed mempertahankan suku bunga. Hal ini sejalan dengan strategi bank sentral yang fokus pada stabilitas ekonomi di tengah tekanan eksternal.

Permintaan lelang SRBI meningkat hingga 61,2 persen menjadi Rp59,3 triliun, namun nilai yang diserap dibatasi Rp7 triliun. Penyerapan terbesar terkonsentrasi pada tenor satu tahun sebesar Rp5 triliun, sedangkan tenor enam dan sembilan bulan masing-masing Rp1 triliun. Langkah ini menegaskan sikap BI yang pro-stabilitas di tengah pelemahan rupiah.

Sikap menahan suku bunga kebijakan di angka 4,75 persen mencerminkan prioritas menjaga nilai tukar. Langkah ini sekaligus menahan pelonggaran kebijakan di tengah ketidakpastian makroekonomi. Fokus pada stabilitas memberikan kepercayaan bagi pelaku pasar untuk tetap berinvestasi jangka menengah.

Transmisi Kebijakan dan Pertumbuhan Kredit

Transmisi dari lima kali penurunan suku bunga sepanjang 2025 belum sepenuhnya terasa di sektor riil. Pertumbuhan kredit masih berada di bawah target BI sebesar 8–11 persen. Kondisi ini menjadi pertimbangan kuat bagi bank sentral untuk menahan pelonggaran kebijakan dalam waktu dekat.

Keterbatasan efek penurunan suku bunga terhadap kredit menekankan pentingnya stabilitas moneter. Bank sentral perlu memastikan mekanisme transmisi berjalan efektif agar sektor riil mendapat dukungan optimal. Dengan begitu, kebijakan moneter tetap relevan dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Investor disarankan memperhatikan instrumen SBN tenor pendek hingga menengah. Instrumen ini menawarkan profil risiko-imbal hasil yang lebih menarik di tengah volatilitas makro dan nilai tukar. Strategi ini membantu mengamankan portofolio sambil tetap memanfaatkan peluang pasar.

Prospek Ekonomi dan Kebijakan Moneter

Stabilitas rupiah dan suku bunga menjadi faktor utama mendukung pertumbuhan ekonomi 2026. Penguatan investasi domestik dan aliran modal asing diharapkan dapat menambah ketahanan ekonomi. Bank sentral terus memantau kondisi global dan domestik untuk menentukan langkah kebijakan yang optimal.

Langkah pro-stabilitas diiringi evaluasi transmisi kebijakan dan manajemen risiko pasar. Hal ini memastikan ekonomi tetap tangguh di tengah gejolak eksternal dan tekanan inflasi. Dengan strategi yang tepat, Indonesia dapat menjaga momentum pertumbuhan sekaligus memperkuat kepercayaan investor.

Kesimpulannya, penahanan suku bunga oleh BI bukan hanya langkah defensif, tetapi strategi proaktif. Kebijakan ini menyeimbangkan stabilitas nilai tukar, mendorong pertumbuhan kredit, dan menjaga momentum investasi. Stabilitas moneter yang terjaga menjadi kunci keberlanjutan pertumbuhan ekonomi nasional di tahun mendatang.

Terkini