JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan melanjutkan penguatan pada Agustus 2026 setelah membukukan kenaikan 6,13% sepanjang Juli. Kendati demikian, penunjukan Gubernur Bank Indonesia (BI) yang baru serta rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) diperkirakan menjadi sentimen utama yang memengaruhi pergerakan pasar.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengatakan secara historis Agustus merupakan bulan yang positif bagi IHSG.
Sejak 2020, indeks selalu ditutup menguat pada bulan tersebut dengan rata-rata kenaikan 2,83%, termasuk reli 4,63% pada Agustus 2025 yang menjadi awal rangkaian penguatan hingga mencetak rekor penutupan indeks.
"Secara probabilitas, kami memperkirakan peluang IHSG menguat pada Agustus berada di kisaran 60% hingga 65%. Angka ini memang lebih rendah dibandingkan tingkat keberhasilan historis 100%, karena pasar kini harus memperhitungkan risiko suksesi Gubernur BI dan ketidakpastian data ekonomi AS," ujar Liza dalam risetnya, Jumat (31/7/2026).
Sepanjang Juli 2026, IHSG menguat 6,13% ke level 6.236,12. Meski demikian, secara year to date (YtD) indeks masih terkoreksi 27,88%, sehingga ruang pemulihan dinilai masih terbuka apabila sentimen domestik tetap kondusif.
Secara teknikal, momentum penguatan juga mulai membaik. Reli pada Juli menjadi yang terkuat sepanjang 2026 dan berhasil membawa IHSG kembali berada di atas rata-rata pergerakan (moving average) 10 hari dan 20 hari.
Sementara itu, indikator Relative Strength Index (RSI) harian berada di level netral 53,6 sehingga belum menunjukkan kondisi jenuh beli.
Berdasarkan proyeksinya, IHSG diperkirakan bergerak di kisaran 6.050 hingga 6.450 sepanjang Agustus sebelum melanjutkan penguatan menuju target akhir tahun di level 7.000.
"IHSG masih berada dalam kanal konsolidasi yang sehat menuju bullish sejak Juni. Selama area 6.050 hingga 6.000 mampu dipertahankan, peluang kenaikan bertahap tetap terbuka," katanya.
Tiga Katalis Utama
Liza menilai terdapat tiga katalis utama yang akan membentuk sentimen pasar sepanjang Agustus.
Pertama, penunjukan Gubernur BI definitif. Hingga akhir Juli, Presiden belum mengajukan nama calon kepada DPR setelah masa jabatan Perry Warjiyo berakhir pada 27 Juli. Untuk sementara, Destry Damayanti menjabat sebagai pelaksana tugas (Plt.) Gubernur BI.
Menurut Liza, apabila pemerintah mengajukan nama seperti Destry Damayanti, Muliaman D. Hadad, atau Aida S. Budiman, pasar kemungkinan akan menilai kebijakan moneter tetap berlanjut (policy continuity). Sebaliknya, apabila Thomas Djiwandono dipilih, pasar berpotensi menguji persepsi terhadap tata kelola kebijakan ekonomi.
Kedua, penyampaian Nota Keuangan dan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 menjelang peringatan Hari Kemerdekaan.
Investor akan mencermati asumsi pertumbuhan ekonomi, target defisit fiskal, kebutuhan pembiayaan, hingga sinyal pemerintah terkait arah kebijakan ekonomi, termasuk kepemimpinan BI.
Ketiga, rilis data Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat pada 7 Agustus. Menurut Liza, data tersebut akan menjadi perhatian utama setelah Ketua Federal Reserve Kevin Warsh mengurangi praktik pemberian petunjuk arah kebijakan (forward guidance), sehingga pasar kini lebih bergantung pada data ekonomi dalam membentuk ekspektasi arah suku bunga.
"Data ketenagakerjaan AS akan sangat menentukan ekspektasi suku bunga The Fed pada September, arah dolar AS, dan aliran dana ke emerging markets," ujarnya.
Rekomendasi Saham
Apabila skenario dasar tersebut terealisasi, Kiwoom Sekuritas menilai sektor perbankan berpotensi menjadi penerima manfaat utama apabila pasar menyambut positif penunjukan Gubernur BI baru dan koordinasi kebijakan pemerintah semakin kuat. Saham-saham seperti BBCA, BBRI, dan BMRI dipandang menjadi pilihan utama.
Di sektor komoditas, saham nikel seperti INCO dan ANTM diperkirakan memperoleh sentimen positif apabila dolar AS melemah sehingga harga logam dasar kembali menguat.
Sementara itu, TLKM juga dinilai menarik sebagai salah satu aset strategis dalam portofolio Danantara yang berpotensi memperoleh dukungan kebijakan apabila sinergi pemerintah semakin terlihat pada paruh kedua tahun ini.
LIVE TIMELINE
09:00 WIB: IHSG dibuka menguat ke 6.250 IHSG dibuka menguat 0,23% atau 14,04 poin menuju level 6.250,17 pukul 09.01 WIB. Pada awal sesi, IHSG bergerak pada rentang 6.248 hingga 6.273. Sebanyak 312 saham menguat, 127 melemah dan 238 saham stagnan.
11:03 WIB: IHSG turun 0,25% IHSG melemah 0,25% atau 15,68 poin menuju level 6.220,27 pukul 11.03 WIB. Sepanjang sesi perdagangan, IHSG bergerak pada rentang 6.213 hingga 6.273. Sebanyak 287 saham menguat, 322 melemah dan 176 saham stagnan.
12:03 WIB: IHSG sesi I turun tipis IHSG sesi I ditutup melemah tipis 0,03% atau 1,83 poin menuju level 6.234,29. Sepanjang sesi perdagangan, IHSG bergerak pada rentang 6.213 hingga 6.273. Sebanyak 323 saham menguat, 294 melemah dan 169 saham stagnan.
13:45 WIB: IHSG awal sesi II menguat IHSG awal sesi II pukul 13.45 WIB, menguat tipis 0,05% atau 3,23 poin menuju level 6.239,35. Sepanjang sesi perdagangan, IHSG bergerak pada rentang 6.213 hingga 6.273.