IHSG Awal Pekan Berpotensi Variatif Terikat Sentimen Global-Domestik

Senin, 03 Agustus 2026 | 21:40:01 WIB
IHSG Diprediksi Variatif pada Senin Usai Dibuka Menguat ke 6.272 [FOTO: NET].

JAKARTA - Kombinasi kuatnya kinerja emiten teknologi dan kekhawatiran terhadap arah kebijakan moneter membuat pergerakan pasar tetap selektif

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Senin berpeluang bergerak variatif akibat pengaruh dinamika dari ranah global maupun domestik.

IHSG mengawali perdagangan dengan menguat 36,49 poin atau 0,59 persen menuju level 6.272,62. Di saat yang sama, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 terangkat 6,05 poin atau 0,97 persen ke posisi 627,29.

“Selama IHSG mampu bertahan di atas 6.200-6.180, IHSG berpeluang melanjutkan penguatan menuju 6.244 sebagai resistance terdekat, dan apabila berhasil breakout, penguatan berpotensi berlanjut ke 6.315 hingga 6.377. Sebaliknya, apabila kembali turun di bawah 6.180, IHSG berisiko menguji support 6.186/6.177 hingga 6.135,” ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya di Jakarta, Senin (3/8/2026).

Dari pasar internasional, sentimen investor didorong oleh optimisme pada sektor teknologi setelah rilis laporan keuangan Amazon melampaui proyeksi, hingga memicu reli pada saham kecerdasan buatan (AI) dan semikonduktor.

Namun, para pelaku pasar tetap mewaspadai sikap tegas (hawkish) dari jajaran pejabat The Fed yang kembali menegaskan pentingnya mempertahankan suku bunga di level tinggi agar inflasi kembali melandai menuju target.

“Kombinasi kuatnya kinerja emiten teknologi dan kekhawatiran terhadap arah kebijakan moneter membuat pergerakan pasar tetap selektif,” ujar Liza.

Pejabat The Fed kembali mengutarakan pandangan hawkish dengan menekankan bahwa tingkat suku bunga wajib dipertahankan tinggi lebih lama demi memastikan laju inflasi benar-benar terkendali.

"Pernyataan itu memperkuat ekspektasi pasar bahwa ruang penurunan suku bunga dalam waktu dekat masih terbatas," ujar Liza.

Di samping itu, friksi antara Amerika Serikat (AS) dan China kembali memanas seiring langkah pemerintah AS memasukkan 43 entitas bisnis asal China ke dalam daftar larangan impor berbasis Uyghur Forced Labor Prevention Act (UFLPA) atas dugaan praktik kerja paksa di Xinjiang.

Pemerintah China mengecam keputusan tersebut sebagai bentuk sanksi sepihak yang tak berdasar dan siap menempuh upaya yang diperlukan guna melindungi kepentingan pelaku usaha domestiknya.

“Kebijakan ini berpotensi meningkatkan ketidakpastian perdagangan global, terutama pada sektor baterai kendaraan listrik, logam, elektronik, dan energi,” ujar Liza.

Beralih ke kawasan Asia, Bank of Japan (BoJ) memutuskan untuk menahan suku bunga acuan di level 1,00 persen, sejalan dengan ekspektasi pasar.

Dari dalam negeri, Danantara disinyalir menunda agenda penerbitan obligasi dolar AS dengan tenor 20 dan 30 tahun akibat kondisi pasar obligasi global yang kurang menguntungkan. 

Melambungnya yield US Treasury memicu investor menuntut imbal hasil pada rentang tinggi 6 persen, melebihi target Danantara yang mematok di kisaran rendah 6 persen, sehingga perseroan memilih menunggu momentum yang lebih pas.

Langkah penundaan ini turut dipengaruhi oleh sentimen depresi Rupiah, lebarnya defisit transaksi berjalan, serta sikap hati-hati investor mengingat rekam jejak Danantara yang tergolong baru.

Di sisi lain, pemerintah bersama DPR mempercepat pembentukan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) guna menangkap arus perpindahan modal global di tengah tingginya ketidakpastian geopolitik.

PFII ditargetkan sanggup menjaring sebagian dana family office dunia yang bernilai sekitar 3,2 triliun dolar AS melalui penyediaan regulasi yang kompetitif, jaminan hukum, serta tata kelola bertaraf internasional.

Pada sesi perdagangan Jumat (31/07) pekan lalu, mayoritas bursa Eropa ditutup menguat, meliputi Euro Stoxx 50 yang terangkat 0,21 persen, indeks DAX Jerman naik 0,07 persen, dan indeks CAC 40 Prancis menguat 0,28 persen, sedangkan indeks FTSE 100 Inggris terkoreksi 0,27 persen.

Bursa Wall Street di AS turut serentak menghijau pada Jumat (31/07), di antaranya indeks S&P 500 naik 0,70 persen ke level 7.489,72, indeks Nasdaq Composite menguat 0,60 persen ke posisi 28.274,20, serta Dow Jones Industrial Average terangkat 0,53 persen ke level 52.485,03.

Sementara itu, bursa saham regional Asia pagi ini dibuka melemah, antara lain indeks Nikkei melandai 1,55 persen ke posisi 63.365,00, indeks Shanghai menyusut 0,66 persen ke 3.806,31, indeks Hang Seng terkikis 0,18 persen ke 25.839,72, indeks Kospi anjlok 3,76 persen ke 6.347,54, serta indeks Straits Times melemah 0,15 persen ke level 5,619,86.

Terkini