Dharma Polimetal (DRMA) Patok Target Penjualan Naik 10% pada 2026

Minggu, 02 Agustus 2026 | 15:30:02 WIB
DRMA Bidik Penjualan Tumbuh 10% di 2026, Laba Semester I Naik 17,8% [FOTO: NET].

JAKARTA — PT Dharma Polimetal Tbk. (DRMA) membidik pertumbuhan penjualan sebesar 10% pada tahun 2026 ini. Sepanjang 2025, emiten manufaktur komponen otomotif ini mengantongi penjualan neto mencapai Rp5,94 triliun.

Sepanjang semester I/2026, DRMA telah membukukan penjualan neto senilai Rp3,16 triliun, terangkat 13,82% secara tahunan (year on year/YoY). 

Laju pertumbuhan ini disokong oleh segmen kendaraan roda dua yang menyumbang 58,50% dari total penjualan konsolidasi. Nilainya terangkat 6,53% secara YoY.

"Untuk target bottom line [laba bersih] kami akan pertahankan agar tidak lebih rendah dibandingkan tahun lalu," kata Direktur DRMA Dian Eka Hartiningsih saat ditemui Bisnis di ICE BSD City, Tangerang, Sabtu (1/8/2026).

Tahun lalu, DRMA mengantongi laba neto yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau laba bersih sebesar Rp652,58 miliar, meningkat dari capaian periode 2024 yang bernilai Rp579,29 miliar.

Sementara dalam kurun Januari-Juni 2026, perseroan mencatatkan laba bersih sebesar Rp282,98 miliar, menguat 17,83% YoY dari laba bersih semester I/2025 yang bernilai Rp240,17 miliar.

Kendati performa semester pertama tumbuh dua digit, Dian tidak menetapkan target pertumbuhan laba bersih setinggi proyeksi pertumbuhan penjualan. 

Pertimbangannya adalah dinamika penuh tantangan seperti lonjakan harga bahan baku, kondisi daya beli masyarakat yang tidak sekuat tahun lalu, hingga tingginya biaya logistik (logistic cost).

Sepanjang semester I/2026 ini, perseroan mencatatkan beban pokok penjualan sebesar Rp2,63 triliun, tumbuh 13,53% YoY. Dalam komponen tersebut, pemakaian bahan baku memberikan porsi 80%, dengan nilai Rp2,1 triliun atau naik 17,28% YoY.

Untuk meredam tantangan bahan baku ini, langkah strategis manajemen adalah menjaga ketersediaan barang, mencari pengadaan dari banyak sumber (multi-source), hingga mengoptimalkan efisiensi bisnis.

Sementara itu, menilik neraca keuangan DRMA pada semester I/2026, perseroan membukukan lonjakan total liabilitas 14,37% YoY menjadi Rp1,54 triliun. Posisi ini ditopang oleh liabilitas jangka pendek bernilai Rp1,19 triliun atau mewakili 77% dari total liabilitas.

Menurutnya, membengkaknya liabilitas ini berbanding lurus dengan langkah ekspansi yang tengah dijalankan perseroan.

"Kami memang sedang melakukan ekspansi di banyak pihak, tapi sejauh ini semua masih dalam kendali. Jadi memang itu sudah kami rencanakan. So far semuanya masih baik dan memang masih sesuai rencana [perhitungan]," tandasnya.

Membedah rasio keuangan kinerja DRMA pada semester I/2026, perseroan membukukan gross profit margin (GPM) sebesar 16,53%, menguat tipis disandingkan dengan GPM semester I/2025 di level 16,32%. 

Sementara itu, debt to equity ratio (DER) perseroan berada di posisi 0,54 kali, sedangkan return on equity (ROE) berada pada level 10,37%.

Di lantai bursa, saham DRMA terangkat 2,13% ke level Rp960 pada penutupan perdagangan Jumat (31/7/2026). Posisi harga tersebut mencerminkan pertumbuhan 7,87% dalam kurun sebulan terakhir, tetapi melemah 9% secara year to date (YtD).

Terkini