JAKARTA - Kondisi fluktuasi yang terjadi di pasar modal pada tahun 2026 ini dinilai jauh lebih menantang apabila dibandingkan dengan situasi pada tahun 2025 lalu. Bersamaan dengan dinamika tersebut, target besaran perolehan penghimpunan dana yang bersumber dari pasar modal pada tahun ini justru dipatok mengalami peningkatan menjadi sebesar Rp250 triliun, meningkat dari target yang dipatok pada tahun 2025 yang berada di angka Rp220 triliun.
Apabila diamati secara seksama berdasarkan kondisi pergerakan pasar saat ini, indeks harga saham gabungan (IHSG) tercatat telah mencatatkan penguatan sebesar 10,51% dalam kurun waktu satu bulan terakhir. Sepanjang bulan Juli berjalan, IHSG terpantau hanya mengalami penutupan koreksi melemah dalam tujuh hari masa perdagangan saja.
Perbaikan kondisi iklim pasar yang terjadi pada paruh kedua tahun ini dipandang sebagai faktor penentu yang paling krusial demi tercapainya target ambisius tersebut.
Senior Market Analyst dari Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta berpandangan bahwa situasi kondisi pasar yang ada saat ini membentuk karakteristik pola penghimpunan dana pasar modal yang jauh berbeda jika disandingkan dengan tahun 2025.
Sepanjang tahun 2025 lalu, situasi pasar terbilang jauh lebih kondusif sehingga aktivitas penawaran umum perdana saham (initial public offering / IPO) masih sanggup diandalkan sebagai salah satu motor penggerak utama dalam penghimpunan dana.
Sementara itu, memasuki tahun 2026 ini para pelaku korporasi cenderung bersikap jauh lebih selektif tatkala menentukan momentum waktu yang tepat untuk melantai di bursa efek. Hal tersebut dikarenakan tingkat valuasi saham masih harus berhadapan dengan tekanan berat akibat tingginya tingkat volatilitas pasar serta faktor ketidakpastian global maupun domestik yang masih membayangi.
"Di tengah kondisi tersebut, instrumen selain IPO justru berpotensi menjadi penopang utama penghimpunan dana. Rights issue masih menarik bagi emiten yang telah memiliki basis pemegang saham strategis sehingga peluang keberhasilannya lebih tinggi dibandingkan melakukan IPO baru," kata Nafan kepada Bisnis, Jumat (31/7/2026).
Selain itu, menurut pandangannya, instrumen penerbitan obligasi maupun surat utang sukuk juga masih menyisakan ruang gerak yang cukup memadai, terkhusus bagi perusahaan-perusahaan yang memiliki fondasi fundamental keuangan yang kokoh, perputaran arus kas yang stabil, serta mengantongi peringkat tingkat kredit yang baik. Kendati demikian, posisi tingkat suku bunga acuan BI Rate yang masih tinggi serta tingginya beban biaya modal (cost of fund) secara otomatis akan menuntut pihak perusahaan untuk jauh lebih berhati-hati dalam menerbitkan instrumen surat utang.
"Artinya, keberhasilan mencapai target penghimpunan dana Rp250 triliun akan sangat bergantung pada membaiknya sentimen pasar pada semester II, stabilisasi arus modal asing, serta meningkatnya kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia," kata Nafan.
Berdasarkan data catatan yang ada, realisasi perolehan total penghimpunan dana di pasar modal Indonesia sepanjang periode semester I/2026 baru menyentuh angka Rp125,74 triliun. Sementara itu, pada kurun waktu semester I/2025 tahun sebelumnya, total perolehan penghimpunan dana di pasar modal bahkan telah berhasil mencapai angka Rp142,6 triliun. Dari total akumulasi pencapaian tersebut, sebanyak Rp8,49 triliun di antaranya bersumber dari pelaksanaan aksi korporasi IPO yang melibatkan sebanyak 16 emiten baru.
Apabila dikomparasikan secara langsung, realisasi perolehan penghimpunan dana pasar modal Indonesia pada semester I/2026 ini mengalami koreksi penurunan sebesar 11,82% secara tahunan (year on year / YoY). Terlebih lagi, jumlah total perolehan dana segar yang berhasil dihimpun melalui jalur IPO juga turut mengalami kemerosotan yang cukup tajam, di mana tercatat per tanggal 17 Juli 2026 baru ada sebanyak 7 perusahaan yang merampungkan IPO dengan perolehan dana terhimpun senilai Rp2,16 triliun.
Nafan menilai bahwa fenomena penurunan angka penghimpunan dana tersebut tidak serta merta mencerminkan hilangnya kebutuhan ekspansi bisnis dari korporasi, melainkan lebih merefleksikan aksi penundaan jadwal atau pemilihan waktu pelaksanaan strategi korporasi yang lebih pas.
Di tengah situasi pasar yang sarat akan volatilitas tinggi, banyak emiten yang lebih memilih untuk bersabar menunggu momentum tingkat valuasi harga yang jauh lebih optimal. Langkah tersebut diambil agar perusahaan terhindar dari risiko perolehan biaya modal ekuitas (cost of equity) yang terlampau mahal akibat harga saham di pasaran sedang mengalami diskon yang terlalu dalam.
Disamping langkah penundaan tersebut, sebagian kalangan korporasi juga lebih memilih untuk memprioritaskan upaya efisiensi operasional internal, melakukan pengoptimalan perputaran arus kas secara mandiri, serta memanfaatkan fasilitas fasilitas pinjaman perbankan ataupun alternatif sumber pendanaan lainnya sebelum memutuskan untuk kembali mengakses pasar modal secara terbuka.
"Dengan kata lain, ekspansi tidak berhenti, tetapi pola pembiayaannya menjadi lebih konservatif dan lebih selektif," jelas Nafan.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa ke depan, apabila indikator stabilitas makroekonomi domestik mampu terus dijaga dengan baik, faktor ketidakpastian global mulai mereda, tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar mulai menyusut, serta tingkat kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia kembali pulih menguat, maka aktivitas aksi korporasi seperti IPO, rights issue, maupun penerbitan instrumen surat utang diyakini memiliki potensi besar untuk kembali bergairah dan menguat baik pada paruh semester kedua maupun pada tahun-tahun berikutnya.
"Dalam konteks tersebut, target penghimpunan dana OJK masih memiliki peluang untuk dikejar, meskipun tantangannya jelas lebih besar dibandingkan tahun 2025," pungkasnya.