Teh Apa yang Paling Baik untuk Kesehatan? Ini Jawaban Para Ahli

Kamis, 30 Juli 2026 | 23:33:31 WIB
Jenis Teh Terbaik untuk Kesehatan Menurut Ahli Gizi dan Peneliti [FOTO: NET].

JAKARTA – Teh menjadi salah satu sajian minuman yang paling gemar dikonsumsi di penjuru dunia. Beraneka varian teh, mulai dari teh hijau hingga teh hitam, sama-sama menawarkan khasiat bagi kesehatan.

Kendati demikian, apabila mesti memilih satu jenis yang paling menyehatkan, para ahli gizi sepakat menetapkan teh hijau sebagai opsi utama. 

Hal ini disokong oleh bermacam riset yang memperlihatkan bahwa teh hijau sarat akan antioksidan yang berfungsi membentengi sel tubuh, merawat kesehatan otak, hingga menopang fungsi jantung.

Meski begitu, asupan teh hijau tetap perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh masing-masing, khususnya bagi individu yang sensitif terhadap kandungan kafein.

Teh hijau kaya antioksidan yang melindungi sel tubuh

Ahli gizi terdaftar sekaligus pendiri The Sound of Cooking, Cindy Chou, RDN menuturkan, teh hijau merupakan varian teh yang paling intensif diteliti ketimbang jenis teh lainnya, sehingga manfaat kesehatannya memiliki pijakan ilmiah yang lebih kokoh.

"Teh hijau telah dipelajari lebih luas dibandingkan jenis teh lainnya sehingga bukti mengenai manfaat kesehatannya lebih kuat," ujar Chou, seperti dilansir Health, Kamis (30/7/2026).

Teh hijau menyimpan kandungan antioksidan berikadar tinggi yang ampuh membantu menetralisasi radikal bebas. 

Senyawa tersebut berperan meredam peradangan sekaligus membentengi sel tubuh dari kerusakan akibat stres oksidatif. Kadar antioksidan inilah yang disinyalir menjadi alasan mengapa teh hijau kerap dihubungkan dengan bermacam faedah kesehatan dalam serangkaian studi.

Berpotensi menjaga kesehatan otak dan fungsi kognitif

Salah satu faedah teh hijau yang paling banyak menyita perhatian yakni kemampuannya dalam menopang kesehatan otak. Ahli gizi Maggie Moon, MS, RD, penulis The MIND Diet: 2nd Edition menerangkan, pengujian ilmiah memperlihatkan bahwa konsumsi teh hijau berhubungan dengan performa kognitif yang lebih baik.

Sebuah tinjauan ilmiah pada 2017 mendapati bahwa teh hijau memberikan pengaruh terhadap tingkat kecemasan, daya ingat, serta kemampuan konsentrasi.

Sementara itu, riset pada 2025 melaporkan bahwa kalangan lansia yang rutin meminum teh hijau memiliki jumlah lesi otak yang lebih sedikit—yang terkait dengan demensia—dibandingkan mereka yang tidak meminumnya. 

Temuan tersebut mengindikasikan bahwa kebiasaan meminum teh hijau berpotensi membantu merawat kesehatan fungsi otak seiring bertambahnya usia, kendati pengujian lebih mendalam masih dibutuhkan.

Mendukung kesehatan jantung dan membantu mengontrol kolesterol

Tak cuma otak, khasiat teh hijau juga merambah pada kesehatan sistem kardiovaskular. Beberapa studi mendapati bahwa konsumsi teh hijau mampu membantu menurunkan kadar kolesterol LDL atau kolesterol jahat beserta kolesterol total. 

Kondisi ini berkontribusi positif terhadap pemeliharaan kesehatan organ jantung dan pembuluh darah.

Beberapa penelitian juga mengindikasikan teh hitam mempunyai manfaat serupa. Walakin, pembuktian ilmiah mengenai teh hijau masih terhitung lebih konsisten sehingga lebih sering direkomendasikan sebagai pilihan utama.

Di samping itu, sejumlah kajian mengaitkan teh hijau dengan penurunan risiko kanker tertentu, seperti kanker kandung kemih, lambung, serta kerongkongan. 

Walau demikian, para peneliti menilai bukti tersebut masih terbatas sehingga belum dapat disimpulkan sebagai efek pencegahan yang pasti.

Tetap perhatikan kandungan kafein saat mengonsumsinya

Meski tergolong menyehatkan, teh hijau tetap mengandung kafein berkisar 30 sampai 50 miligram per cangkirnya.

 Pendiri Body to Soul Health, Jennifer Bianchini, MS, RD, IFNCP mengimbau orang yang mengalami gangguan kecemasan atau sensitif terhadap kafein sebaiknya membatasi asupan teh hijau lantaran dapat memicu jantung berdebar, timbulnya rasa gelisah, hingga gangguan tidur.

Sementara itu, Chou menambahkan, ibu hamil dan menyusui disarankan membatasi asupan kafein di bawah 200 miligram per hari, sedangkan anak di bawah usia 12 tahun sebaiknya tidak mengonsumsi kafein sama sekali.

"Bagi sebagian besar orang dewasa yang sehat, konsumsi kafein kurang dari 400 miligram per hari, setara sekitar delapan cangkir teh hijau ukuran 240 mililiter, umumnya masih dianggap aman," imbau Chou.

Terkini